Bahagia?

Tak tahu mengapa, aku sedang memikirkan kata ini; yang dijadikan judul untuk konten ini.

Bahagia.

Mengapa memakai tanda kutip? Karena, menurut aku, ini adalah rangkaian jawaban dariku untuk beberapa orang yang menanyakan kepadaku, bahagiakah aku?

***

Riska yang dulu, jaman masih sekolah, masih teringat ia senang sekali berambisi, dan menuntut hal itu terwujud. Seringkali ketika ambisinya terwujud, ia mengatakan bahwa ia bahagia dengan capaiannya; entah itu masalah pelajaran yang nilainya harus bagus, atau peringkat di kelas harus didapatkan, atau yang paling parah... ingin selalu si doi ada.

Oke, yang ketiga mungin terdengar aneh, tapi benar adanya.

Dulu itu, bahagiaku hanya sebatas itu, seingatku. Tapi tidak selamanya mulus. Di akademik, menurutku, aku oke. Meskipun pelajaran Bahasa Sunda dan IPA-ku termasuk nilai pas-pasan, tapi orang tuaku tidak memarahiku, karena mereka tahu bahwa anaknya ini memang pintar HAHAHA. Aku bukannya mau sombong, cuman mamaku tahu potensiku itu bagaimana, jadi ia memaklumi hal itu. Jadi, sekali lagi, nilai pelajaran yang tadi kusebutkan, kalo pas-pasan, itu bukan masalah untuk mereka.

Dulu, sumber bahagia aku kalo udah pelajaran matematika. Aku inget banget waktu itu, ceritanya ulangan harian, dan ketika nilainya diumumkan, ceweknya hanya aku saja yang tidak diremedial, bersama 4 lelaki lain. Sisanya-kurang lebih 30 siswa-terpaksa harus menghadapi remedial. Saat itu, aku merasa senang sekaligus aneh, padahal jika diingat, waktu masih di bangku SD, aku sangat membenci matematika, karena pusing menghitung HAHAHA. Tapi pepatah jangan terlalu benci nanti malah cinta itu ternyata berlaku. Aku jadi senang matematika.

Hadeuh.

Oke, tadi senangnya. Sekarang yang sedihnya.

Aku tak akan membahas banyak, hanya saja selama di bangku SMP, kisah asmaraku bisa dibilang terkonyol yang pernah aku alami seumur hidup. Untung kubilang konyol, bukan tolol.

Singkat saja, zaman itu, aku menyukai seseorang. Cukup lama, sekitar selama aku SMP lah. Tapi ia tidak menyukaiku balik. Kami berteman baik, tapi aku punya perasaan lebih. Dan aku sempat mengatakan perasaanku padanya, aku tak ingat apakah aku menawarkan diriku untuk menjadi pacarnya atau tidak, tapi saat aku mengatakan hal itu, esoknya, kami menjadi saling memalingkan muka dan seingatku tidak bertegur sapa juga, padahal kami sekelas. Entah berapa bulan kami seperti itu, hanya saja pada akhirnya kami baik-baik saja, maksudku berteman baik. Ya, keliatannya.

Tapi aku masih menyimpan perasaan itu, ya, masih. Sampai penghujung semester satu kelas sembilan. Perasaan itu menghilang begitu saja, karena waktu lalu, aku memaksakan diriku untuk melupakan perasaan itu; yang bertepuk sebelah tangan, dan terasa perih ketika ia bercerita menyukai teman dekatku.

Entah berapa banyak tetes air mata yang keluar karena perasaan perih itu. Konyol sekali.

Tapi akhirnya aku merasa bahwa hidup itu nggak melulu tentang perasaan cinta. Ditambah ujian di depan mata, mungkin perasaan itu menghilang karena aku menyibukkan diri; walau pas itu masih galau dikit sih. Ditambah aku udah mulai ikhlas dengan perasaan itu, akhirnya merasa ya-udah-jadinya-nggak-kenapa-napa-kok.

Ya begitulah, itu masa SMP.

***

SMK, pemikiranku jadi kompleks. Menurutku, kalau aku tidak masuk SMK, mungkin pemikiranku akan kaku, dan akan terus mengejar ambisi yang sebenarnya bukan takaran jalan hidup aku.

Dan dari saat ini, aku sepertinya sudah mulai jarang sekali mengatakan bahwa diriku bahagia.

***

Penghujung SMP, waktu itu kami diberi formulir untuk melanjutkan sekolah, nantinya akan dikolektifkan untuk pendaftaran di sekolah yang baru. Dulu, aku memilih untuk daftar di salah satu SMA favorit di kotaku. Tapi banyak pertanyaan di pikiranku.

Pertama, aku tidak menyukai pelajaran IPS, apalagi IPA. IPS cukup senang sih, cuman sumpah-aku-orangnya-males-baca. Akhirnya aku konsultasi ke mama, dan akhirnya mamaku menyarankanku untuk masuk SMK jurusan akuntansi. Setelah berpikir panjang, akhirnya kuputuskan meminta ijin ke petugas Tata Usaha; menarik map merahku (kala itu map merah menandakan masuk SMA) dan menggantinya menjadi map kuning (kala itu map kuning menandakan masuk SMK).

Aku ingat banget, pas itu, ada beberapa orang melihatku mengganti mapnya. Mereka tertegun, mungkin karena di kelasku, karena minoritas sekali di kelasku masuk SMK. Sumpah, saat map kuning itu sudah rapi dan siap diberi ke ruang Tata Usaha lagi, aku hampir nangis, karena sebenarnya ada beberapa hal lain yang membuatku mengganti pilihanku; dan itu menyangkut masa depanku.

Tapi aku tahu, Tuhan selalu menunjukkan jalan yang terbaik. Dan aku mengerti sekarang.

Dan waktu terus berjalan, aku merasa bahwa diri ini selalu merepotkan orang tua. Ketika itu, adikku ada tiga. Jadi, aku memasang pola pikir untuk memikirkan mana prioritas atas kebutuhan, dan mulai berhemat. Dan semenjak itu, aku merasa bingung bersamaan dengan perasaan tertekan, dan kadang merasa hidup ini tidak adil; karena aku anak pertama yang harus mengalah dengan kondisi.

Itu hanya pikiranku saja yang tadi kuketik, di saat itu.

Bahkan aku merasa rumit dengan jalan pikiranku sendiri. Saat itu, aku mempunyai pacar yang hubungannya suka putus-nyambung karena aku sendiri yang memutuskannya, tapi pada akhirnya malah balikan lagi. Labil banget kan?

Di zona SMK-ku, aku merasa sedang mencari jati diri banget.

Sampai akhirnya di penghujung SMK, aku mencoba untuk memperjuangkan ambisiku untuk ikut SNMPTN dan SBMPTN. Tapi mungkin Tuhan tidak menunjukkan jalanku ke sana. Patah hatinya bersamaan degan teringat diriku pada saat mengganti map merah ke map kuning, tapi itu hanya sebentar, setelahnya, aku fokus memikirkan untuk membeli map coklat dan banyak kertas folio untuk melamar pekerjaan.

Setelah beberapa lamaran yang kusebar, akhirnya setelah 3 minggu menginjak umur 18 tahun, aku akhirnya diterima kerja menjadi seorang Admin Keuangan di salah satu cabang anak perusahaan pembiayaan. Dan aku masih bertahan bekerja, sampai hari ini.

Ketika bekerja selama 1,5 tahun lamanya, aku memutuskan untuk melanjutnya pendidikanku di salah satu universitas dengan jurusan Akuntansi. Awalnya, aku tidak memikirkan akan melanjutkan pendidikan, tapi mamaku sempat berbicara padaku ingin melihat anaknya kuliah. Dengan segala kemantapan hati, akhirnya aku memilih untuk mewujudkan impian mama.

Tidak, aku tidak memaksakan diri. Aku tahu hal ith tidak mudah, tapi aku tahu, Tuhan akan memberi kemudahan untuk niat baik kita. Apalagi itu kan mencari ilmu.

Walau beneran stres sih.

***

Oke, ini kenapa pas w scroll ke atas jatuhnya malah curhat ya?

Nah, jadi dari sana, kalian bisa menyimak kan, apakah aku bahagia?

Dan jawaban intinya adalah "tidak". 

Aku bener-bener merasa semakin lama aku hidup, semakin merasa tidak aman ketika aku memilih pilihan. Selain itu, aku juga merasa bahwa aku egois ketika memikirkan hal yang bikin aku bahagia.

Apalagi dunia ini bukan milikku. Tentu ada Sang Maha Pengatur.

Tapi aku percaya, Sang Maha Pengatur ini Maha Baik, ia Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang akan memberikan kemudahan di setiap hidup semua orang. Aku percaya, di setiap kesulitan, pasti ada kemudahan.

Dan jawaban intinya lagi adalah: "bersyukur"

Aku merasa, bahwa kalau tak ada rasa sedih, aku tak akan merasa selega ini.

Di beberapa kesempatan me time-ku, aku seringkali berjalan sendirian, melihat di pinggir jalan atau bahkan berpapasan di hadapanku; melihat banyak beberapa orang yang tidak seberuntung aku.

Aku merasa, bahwa rasa mengasihi membuat diri ini tenang karena bisa membantu sedikit atas kebutuhannya.

Aku merasa, bahwa semua kekhilafan di waktu lampau yang aku lalui, dengan segala tekanan yang menyertainya, membuat aku merasa jadi orang yang lebih baik. Aku harap Sang Maha Pemaaf selalu memaafkan kekhilafanku.

Dan jawaban intinya (lagi) yang terakhir: let it flow, yang penting jadi orang baik, untuk diri sendiri dan orang lain

Semakin lama aku hidup, aku berusaha untuk membuat diri ini tidak merasa sakit mental, atau kalau merasa tertekan, aku akan mencari banyak cara agar bisa melalui semua hal itu.

Aku tidak tahu, apakah aku dianggap baik oleh orang lain; tapi menurutku, aku merasa belum. Suka menyakiti orang dengan perkataanku, atau mungkin tersinggung dengan tingkahku. Tapi semoga, dengan tidak terlalu dekatnya aku dengan banyak orang, bisa menjaga diriku untuk tidak menjelekkan orang lain; dan juga semoga dengan sikap loyalitasku dengan kawan yang baik denganku, tidak membiar mereka merasa sia-sia karena sudah mengorbankan waktunya hanya untukku.

***

Di akhir kata, aku ingin mengucapkan bahwa, semakin di umur yang bisa dibilang dewasa, kadang kita tidak memikirkan jangka pendek untuk masalah masa depan. Tapi untuk sekarang, pasti ada perasaan bersyukur dengan peraihan suatu hal dengan pengorbanan yang seimbang.

Aku harap, semoga kalian selalu bersyukur. Nggak boleh menyesal. Gapapa ngeluh, yang penting jangan berhenti berjuang.

Aku tahu, kita semua kuat. Kita bisa melalui hidup kita, asal yakin ada Sang Maha Penguasa dengan segala Maha-nya yang Maha SEGALANYA.

Dan... Di hari pertama umur 22 tahun ini, seperti di lagunya Taylor Swift,

everything will be alright.

Ya, so, let going on! 😉

Comments