Cintai Aku Seperlunya

Merasa sering datang dan perginya orang banyak, maka aku menerapkan prinsip bahwa jangan merasa selalu ingin dicintai oleh orang lain, karena waktu akan membuat diri sibuk dengan dirinya sendiri. Mengerti kan maksudku?

Dulu, aku ingin banget dicintai. Aku mengemis perhatian ke banyak orang, agar mereka mengert diriku butuh mereka.

Dulu aku pernah mencintai seseorang, yang membuatku terlihat bodoh di depan banyak orang.

Dulu aku pernah memperjuangkan seseorang, sampai aku merasa bahwa apa yang aku lakukan semua tidak membuahkan hasil; percuma; sia-sia.

Semakin aku tumbuh, aku mulai merasakan buah kesabaranku; menemukan jati diri, menemukan orang-orang yang sepemikiran denganku, menemukan orang-orang yang rela untuk saling berjuang untukku, juga menemukan orang-orang yang mampu meyakinkan dan meyakini untukku dan untuknya. Aku merasakan hal itu sangat indah.

Tapi rasanya semakin hari, aku juga semakin memikirkan diriku sendiri. Kadang aku berpikir bahwa sebenarnya, mereka cukup memikirkan mereka saja.

Entah mengapa aku mikirkan hal seperti itu.

Sampai pikiran gila itu membuatku berpikir untuk memutuskan pacarku dulu. Tapi ketika putus, aku menangis, dan nggak lama dari itu balikan lagi.

Labilnya diriku. Hahaha.

Tapi sekarang umurku 22 tahun. Sekarang aku adalah pekerja penuh waktu sebagai seorang Administrator Keuangan di sebuah kantor cabang perusahaan pembiayaan, yang harus menyempatkan waktunya untuk belajar mengejar pendidikan formal sarjanaku. Semua orang lebih sibuk mengurusi dirinya sendiri. Kadang aku merindukan mereka, sangat. Aku rindu jalan-jalan, nongkrong di cafe atau bahwa sekadar berjalan santai di Alun-alun sambil menikmati hembusan angin di bawah pohon yang rindang.

Tapi... tetap, mereka tetap punya kehidupan yang lebih penting untuk diperhatikan, dibanding diriku. Jadi aku tidak punya hak untuk selalu disampingnya terus.



Jadi, sekarang,

Walau aku merasa sepi,

Itu tak mengapa,

Aku mencintai mereka,
tapi seperlunya saja.,

Karena aku lebih mencintai diriku sendiri.

Comments