Aku Pikir

Aku pikir, kamu adalah sebuah ketulusan yang tercipta untukku atas segala sakit hati yang kurasa.
Aku pikir, kamu adalah suatu hal yang mampu buat aku yakin, bahwa duniaku tidak akan indah jika tanpamu.
Aku pikir, kamu adalah seseorang yang memang akan menetap denganku, untuk hari ini dan seterusnya.

Nyatanya, sejak pertemuan kita yang ketiga kalinya, semua pikiran itu ku tepiskan semua.

Ketulusan yang kurasa darimu tiba-tiba seakan menampar diriku.
Keyakinan yang kau jaminkan tiba-tiba mengkhianatiku.
Ketetapan yang kau selalu katakan akan untukku tiba-tiba sirna.

Kautahu? Semenjak itu, aku merasa duniaku diterjang angin keresahan; seakan pikiranku merasa jika semua itu harus berakhir, akan aku relakan. Walau belum tentu rasa ikhlas akan aku rasakan dalam waktu dekat.

Kamu menghilang, dan mulai menganggap aku tak penting lagi untuk menjadikan sebagai sandaran dan curahan cerita atas hari-harimu. Sakit? Tentu saja. Tapi aku masih berpikir bahwa aku harus mulai menerima sesuatu yang ingin kau privasikan.

Dan tiga hari kemudian, kau menunjukkan pencerahan yang kupikirkan atas kegelisahanku. Kau menyudahi komitmen itu. Kau katakan bahwa hatimu masih menyangkut pada masa lalu yang belum bisa kaulupakan. Rasanya ingin menghakimimu karena kau tak pernah berterus terang karena masih terbelenggu rasa dengan yang lain. Tapi, rasa adalah sebuah rasa.

Aku tidak bisa mengukuhkan rasa egoismu. Melepasmu saat itu adalah keputusan yang terbaik. Terlalu lama kugenggam kau, ibarat tali, akan terasa sakit juga. Sebelum terikat, aku mencoba untuk merelakan semua itu terjadi.

Tak sedikit air mata tercipta dari muara milikku. Bodohnya aku terlalu yakin denganmu. Polosnya aku mempercayai semua perlakuan manis yang sementara itu, sehingga ketika diriku tak menyangka harus kehilangan, aku merasakan tak kuasa untuk melepas.

Merelakan dirimu tidak akan tiba-tiba telepon mencemaskanku dengan berujung bilang bahwa kamu merindukanku.
Merelakan diriku tidak akan menerima manisnya seujung pesan di Whatsapp dari dirimu.
Merelakan dirimu yang... esoknya tidak akan sama dengan yang lalu kau perlakukan padaku.

*****

Meski dengan segala kekecewaanku, yang tak kamu ketahui, aku harap, kamu selalu bahagia dengan dirimu sendiri. Jaga dirimu selalu.

Karena aku yakin atas diriku sendiri; aku sudah mendapatkannya.

Terima kasih sudah menghiburku, menciptakan arti dunia yang "lain", membuat sebuah momen yang tak pernah aku lupakan, dan memberikan kesan yang berbeda untuk sosok lelaki yang belum pernah kuketahui.

Mungkin tanpa ada kamu, aku tidak akan menjadi diriku yang hari ini. ✨🌹


---this is not fiction story. :)

Comments