Beberapa Kecemasanku Yang Harus Ditanyakan

Aku tak memikirkan untuk mendapatkan jawaban, karena banyak pertanyaan yang tidak mudah atau tidak ada untuk jawabannya. Tapi aku harus menulis beberapa kecemasanku di sini.

1. Aku awalnya punya harapan, dan katakanlah diibaratkan aku membangun sebuah rumah. Aku punya modal awal untuk berani dan materi untuk itu, tetapi pertengahan waktu, dan aku membangun itu sendirian, dan benar-benar susah payah. Sampai pada akhirnya, baru sampai tahap dibangun dinding, aku mulai merasa lelah dan ingin berhenti saja, karena menghitung semakin lama keadaannya semakin memberatkan, ditambah aku bingung harus bagaimana.
--perihal soal ini, membangun rumah bukan hal yang sebenarnya. tapi aku mengibaratkan harus dibangun sendiri, karena emang itu harus dilakukan sendiri, jadi jangan memberi saran agar meminta bantuan orang lain untuk menyelesaikannya.


2. --harusnya aku meletakkan poin ini di nomor 1, cuman mager atur haha.
Aku awalnya senang sekali dengan rutinitas baruku, tetapi memang benar-benar menghabiskan banyak waktu; ibaratkan 24 jam sehari, aku bisa 2/3 hari itu rutinitasku itu. Aku hidup sendiri juga untuk itu, sama dengan halnya di poin 1. Sebelum poin 1, aku melakukan poin ini terdahulu. Iyalah, aku kan dapet materi dari poin ini.
Tapi semakin lama, aku semakin berpikir ingin  keluar dari zona poin ini karena ingin punya banyak waktu untuk poin 1. Apakah aku salah dengan pemikiranku ini? Jika tidak namun kurang tepat, aku harus bagaimana?


3. Aku punya pikiran yang sangatttt mengingat masa yang memorable. Apalagi yang menyakitkan. Diibaratkan, momen 10 tahun lalupun aku masih mengingatnya. Aku selalu mengenangnya, setiap pikiran itu; ketika sudah terjadi; di sebuah media. Dan aku selalu membuka lembaran itu, setiap harinya. Seketika aku tersenyum dengan keadaanku sekarang karena bersyukur telah melalui momen itu dengan susah payah, dan ternyata aku baik-baik saja. Apa aku terlalu aneh untuk itu?

4. Aku sedang menekuni sebuah kesukaanku sedari dulu, yang awalnya bikin aku kurang percaya diri. Baru mulai, dan lumayan lelah untuk mencari materi dan menguatkannya. Tapi entah mengapa ada sedikit pemikiran untuk jangan terlalu ditekuni, karena aku punya poin 2 dan poin 1. Menurutmu, bagaimana?

5. Dari semua pertanyaan itu, apakah kalian menyimpulkan bahwa aku meributkan diriku sendiri yang sebenarnya bisa dibawa santai, atau ini hal yang wajar? Jika wajar, apakah kalian ikut pusing untuk memberi saran atau bagaimana?

Untuk kalian, perlu diinformasikan, aku berumur 21 tahun, seorang wanita ISFP dan punya sisi plegmatis-melankolis. Dan aku merasa tidak damai dengan lima pertanyaan ini, ya... sebenernya sih, gitu.
Terima kasih yang sudah membaca. Maaf membuat kalian terlibat. (:

Comments