Untukku Sendiri

Hai, Riska.

ya, di sini, aku ingin menceritakan, mungkin sebuah draw my life yang tidak terlalu tergambar jelas, tapi aku yakin kamu bisa mengerti sooo here we go

20 tahun lalu kamu lahir dari perut mamamu yang masih terhitung muda, dan Tuhan mengijinkanmu untuk melihat dunia ini.

Berjalannya waktu ke depan, kamu dididik dengan penuh kasih sayang oleh mama papa, sesekali ditemani tante dan nenek, dan orang lain yang mungkin kamu kenal sampai sekarang, atau sekarang kamu sudah lupa.
Walau dulu kamu kecil dikenang jorok dan bandel sampai pernah memakan obat nyamuk, dan masuk ke kandang ayam,
Walau dulu kamu kecil dikenang cengeng karena di sekolah kanak-kanak tidak ingin ditinggal yang mengantarmu sampai pernah peluk pohon,
Walau dulu kamu kecil dikenang manja karena setiap hari ketika makan selalu minta disuapin,

Tapi semakin hari, kamu seakan mengenal siapa dirimu.

Anak yang baik, sensitif, suka mencari "pengakuan", ekspresif, dan... cukup pintar. Itu yang kamu pikir selama masih menempuh pendidikan di bangku sekolah dasar.

Kamu tidak pernah berpikir setengah-setengah untuk ambisimu, itu terbukti dari kamu selalu tunjukan sisi baik dan kamu lakukan itu secara terus-menerus dengan keras, dan kamu mendapatkan itu. Aku pikir, kamu hebat. Meskipun orang tuamu suka memakimu karena pemalas dalam pekerjaan rumah, tapi mereka menunjukkan bangga karena prestasimu.

Sekali lagi, Ris, saat itu kamu hebat.

ini gue ngetik sambil senyum teu puguh sih wkwk

Tapi, entah kamu mendapatkan "reward"itu adalah sebuah ujian atau hidup baru yang luar biasa. Tapi, aku harus mengatakannya padamu bahwa ternyata kamu cukup payah untuk masalah mental. Tapi aku juga tahu bahwa kamu hebat karena kamu tahu kemampuanmu. Kamu semakin lama semakin mengenal dirimu sendiri, meski tak terhitung berapa kalikah kamu menangis untuk seseorang yang tak perlu kau pedulikan itu.

mungkin kalian mengerti apa maksudku ketika membahas yang tadi

Entah efek pubertas, entah efek pergaulan, entah efek memang kamu diharuskan untuk merasakan hal itu, tapi aku cukup kasihan karena melihatmu menangis dengan hal bodoh itu. Kutekankan sekali lagi. ITU BODOH. Ya, tidak apa-apa. Kadang kita tidak bisa kendalikan diri sendiri, bukan?

Tapinya lagi, aku tahu kamu bisa. Meskipun kamu tidak berprestasi, tapi kamu tahu apa yang kamu suka, kamu perjuangkan. Apa yang menyakitimu, kamu perlahan coba lepaskan. Apa yang harusnya kamu pelajari, baik formal maupun informal, kamu coba pahami dan... kamu mampu untuk itu.

Maaf, karena aku mengatakan kamu itu bodoh. Tapi, aku mengagumimu, wahai Riska.

Sampai akhirnya kamu lulus dari zona itu, dan kamu memilih satu tahap lagi untuk mencapai "hidupmu yang sebenarnya". Kamu sempat berpikir untuk memilih sebuah tempat yang bisa membuatmu fokus kepada satu hal tapi... Nyatanya, kamu berubah pikiran, bukan? Setelah kamu melihat kejadian yang membuatmu sedih bimbang karena kamu bukan bergantung pada dirimu sendiri...

Dua hari kemudian setelah mengajukan map pengajuan pilihan, kamu balik lagi ke ruangan itu, untuk menarik pilihan awalmu, dan mengganti mapnya dengan warna yang berbeda dan kertas yang berbeda pula. Lama sekali kamu mengembalikan untuk perubahan itu, tapi kamu mencoba untuk yakin dengan pilihanmu sendiri. Setelahnya, entah kamu merasa sedih. Aku ingat hari itu. Sangat ingat. Tapi, lagi-lagi kamu yakin Tuhan akan memberikan jalan yang terbaik dari yang kamu pilih.

Dan, kamu selalu yakin itu.

Dan, kamu berhasil lagi.

Setelah beberapa bulan, kamu bersemangat untuk merasakan semua yang dijalani. Kamu malah menyukai semuanya, kamu merasa bersyukur karena Tuhan telah memberikanmu bahagia dengan senyuman manis di bibirmu. Tuhan bukan hanya memberikanmu bahagia dengan jalanmu, tapi juga memberikan seseorang yang sebelas dua belas denganmu, yang menemanimu sampai hari ini.

pengen ketawa sumpah seriusan
hahahaha

Singkat cerita, menuju akhir dan awal dari dunia nyata, kamu berubaha untuk memikirkan dengan matang apa yang akan dilakukan kedepannya. Awalnya kamu mencoba untuk berjuang memikirkan satu hal, yaitu fokus kepada pelajaran formal. Tapi, mungkin itu bukan jalanmu, atau kamu kurang beruntung. Akhirnya sebulan setelah memasuki umur "legal", kamu resmi menjadi seorang admin, sampai sekarang. Selama satu setengah tahun vakum, kamu dengan optimis melanjutkan pelajaran formal.

bentar, w baca dulu dari awal sampai akhir

hehe, pengen senyum dulu bentaran

sip.

Ris, aku nggak tahu harus gimana lagi bilang ke kamu, bahwa aku mengagumimu, dalam perjalanan hidupmu, rumitmu, simple-mu, pandang pikiranmu, ambisius... Mungkin ada beberapa yang cukup membuatku mempertimbangkan bahwa apakah-kamu-pantas-dikagumi-oleh-diriku, karena kamu seseorang yang kurang konsistensi dalam suatu hal, dan moody, tapi... Kamu hebat, Ris. Sangat hebat.

Sekali lagi, Ris, kuberitahu, bahwa aku mengagumimu.
Aku bersyukur Tuhan telah membentukmu menjadi orang yang kukenal sekarang, dan aku yakin bukan aku saja yang mengagumimu.

Riska, untuk kedepannya, memang aku tidak tahu apa akan kamu putuskan nanti, atas keluh kesahmu, atas pikiran rumitmu, tapi, kamu harus benar-benar matang. Kamu harus tahu, masa umurmu hari ini adalah titik tersulit selama hidupmu. Semakin dewasa, semakin ada-ada-saja tantangannya. Tapi, aku yakin kamu kuat. Aku yakin kamu bisa melakukannya.

Ris, semangat ya. Ini tentang hidupmu, dan orang-orang yang membutuhkanmu. Orang-orang yang menyayangimu--termasuk aku--ingin kamu tersenyum terus. Semangat.

Oh ya satu lagi, lebih kenali lagi dirimu, tambahkan potensimu yang membuat dirimu menjadi dipandang baik oleh orang-orang.

Dan ingat dengan satu hal,

"jangan percaya apapun yang menurutmu memusingkan tentang sumbernya, jangan mudah percaya memberikan amanah, dan musuh terbesarmu adalah diri sendiri. dan, bahaya datang disaat kamu merasa aman"

-------------------tepatnya 2 September 2019, tenang, kamu jangan takut menua. cukup terus berbuat baik dan hati-hati dengan apapun. i love you, wahai Riska Septiani; wahai diriku sendiri. :) -------------------